Perubahan pH dalam air sangat berpengaruh besar pada biota laut

Perubahan pH dalam air sangat berpengaruh besar pada biota laut

ph air

Perubahan pH dalam air sangat berpengaruh besar pada biota laut

Air laut mempunyai kemampuan menyangga yang sangat besar untuk mencegah perubahan pH. Perubahan pH sedikit saja dari pH alami akan memberikan petunjuk terganggunya sistem penyangga. Hal ini dapat menimbulkan perubahan dan ketidak seimbangan kadar CO2 yang dapat membahayakan kehidupan biota laut. pH air laut permukaan di Indonesia umumnya bervariasi dari lokasi ke lokasi antara 6.0 – 8,5.
Perubahan pH dapat mempunyai akibat buruk terhadap kehidupan biota laut, baik secara langsung maupun tidak langsung. Akibat langsung adalah kematian ikan, burayak, telur, dan lain-lainnya, serta mengurangi produktivitas primer. Akibat tidak langsung adalah perubahan toksisitas zat-zat yang ada dalam air, misalnya penurunan pH sebesar 1,5 dari nilai alami dapat memperbesar toksisitas NiCN sampai 1000 kali.
Ph adalah tingkatan yang menunjukan asam atau basanya suatu larutan yang di ukur pada skala 0 – 14. Tinggi atau rendahnya pH air dipengaruhi oleh senyawa / kandungan dalam air tersebut. Faktor yang mempengaruhi pH air yaitu sisa-sisa pakan dan kotoran yang mengendap di dasar kolam. Selain itu juga berasal dari kandungan CO2 yang tinggi hasil pernafasan (terjadi menjelang fajar sampai pagi hari).

Perubahan pH dalam air sangat berpengaruh besar pada biota laut

pha
Dampak perubahan pH :

  • Terganggunya proses metabolisme ikan
  • Ikan mudah terserang penyakit
  • Pertumbuhan menurun, stress
  • pH tinggi dapat meningkatkan kandungan ammonia sehingga kualitas air terganggu.

Cara mengatasi pH air, diantaranya yaitu :

  • sebelum pengisian air, kolam dikeringkan kemudian diberi kapur secara merata
  • dilakukan pengendapan sebelum air dimasukkan ke dalam kolam
  • penggantian air untuk membuang sisa-sisa pakan dan kotoran dari dasar kolam agar pH kembali normal.

Kisaran pH air tambak udang yang optimum adalah 7,5-8,5. Pengukuran pH dilakukan pada pagi pukul 05.00 (sebelum matahari terbit) dan sore hari sekitar pukul 16.00. Nilai fluktuasi pH pagi dan sore hari dapat digunakan sebagai indikator proses kimia dan biologis. Pada waktu malam hari semua biota dalam air melakukan respirasi menghasilkan CO2 sehingga nilai pH turun. Sebaliknya pada siang hari terjadi proses fotosintesa oleh phytoplankton, makroalga dan tanaman air lainnya dengan menggunakan CO2 sehingga menyebabkan nilai pH naik.
Kisaran optimal fluktuasi nilai pH air pagi dan sore adalah 0,2-0,5. Fluktuasi nilai pH harian yang lebih dari 0,5 menunjukan bahwa karbonat dalam air sebagai penyangga adalah kurang. Sebaliknya bila fluktuasi kurang dari 0,2 atau bahkan sore hari sama dengan pagi hari, menunjukkan fotosintesis tidak berjalan normal. Kondisi lingkungan lebih berbahaya bila nilai pH pagi lebih tinggi dari sore hari.
Fluktuasi harian kandungan oksigen terlarut ditentukan kepadatan biota yang ada dalam air terutama phytoplankton dan makroalga yang merupakan produsen primer. Untuk menjaga oksigen terlarut tetap pada kondisi optimal adalah dengan memanfaatan proses fotosintesa, penggunaan aerasi dan mengatur jumlah densitas plankton dan tanaman air. Kedalaman air optimal tambak sederhana yang tidak menggunakan aerasi adalah 2 x nilai kecerahan.
Hubungan pH dengan suhu adalah derajat keasaman air pH = -log (H)+. Ukuran konsentrasi ion Hidrogen (mol per Liter) menunjukkan suasana asam atau basa suatu perairan.
Catatan :
– Air (H2O) berasosiasi sempurna – ion H+ dan OH- berimbang,
– pH air murni = 7
– Semakin tinggi konsentrasi ion H+ konsentrasi ion OH- rendah
– pH <7, pH asam – Berkaitan dengan proses fotosintesis dan respirasi organisme CO2 + H2O  H2CO3 H + + HCO3  2H ++ CO32- – Semakin banyak CO2 yang di hasilkan dari respirasi maka :  reaksi bergerak ke kanan  pelepasan ion H+  pH air turun (cenderung asam) – Penurunan / penggunaan CO2 dalam fotosintesis oleh fitoplankton, maka :  pH air naik (cenderung basa) – pH rendah (keasaman tinggi)  penurunan oksigen terlarut  konsumsi oksigen terlarut  peningkatan aktivitas pernapasan  penurunan selera makan – rentang toleransi pH : 6,5 – 9,0 – pH optimal : 7,0 – 8,5 – Fotosintesis (siang hari) menggunakan CO2 – Respirasi (siang – malam) menghasilkan CO2  CO2 terlarut tinggi pada malam hari (pH cenderung rendah) Hubungan pH dan kehidupan hewan (ikan) budidaya yaitu air laut umumnya bersifat alkalis (pH > 7) karena bergaram, pH air tambak :
– Tanah dasar
– Konsentrasi CO2 terlarut
Pengapuran dapat dilakukan untuk meningkatkan level pH yang terlalu rendah. Dalam sistem sirkulasi, vitrifikasi dan respirasi pada ikan dan biofilter bakteri dapat menurunan pH. Buffer seperti natrium bikarbonat ditambahkan untuk mencegah penurunan pH.
Air merupakan media paling vital (penting) dalam kehidupan ikan. Selain jumlahnya, kualitas air juga membutuhkan perhatian yang paling serius agar dapat memenuhi syarat untuk mencapai air juga membutuhkan perhatian yang paling serius agar dapat memenuhi syarat untuk mencapai kondisi air yang optimal sebagai salah satu kunci keberhasilan budidaya ikan.
Manajemen kualitas air adalah Suatu usaha untuk menjaga kondisi air tetap dalam kondisi baik untuk budidaya ikan dengan memperhatikan faktor fisik, kimia dan biologinya.