Kadar Air Tanah merupakan Faktor penting untuk pertumbuhan

Sifat-sifat tanah diketahui sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Kondisi fisik tanah ,mentukan penetrasi akar didalam tanah, air, drainase, aerasi dan nutrisi tanaman. Oleh karena itu erat kaitannya jika seseorang berhadapan dengan tanah ia harus sampai berapa jauh sifat sifat tersebut dapat diubah. Hal ini berlaku apakah tanah itu digunakan sebagai medium untuk pertumbuhan tanaman atau sebagai bahan structural dalam pembangunan jalan raya, bendungan dan fondasi untuk gedung.

Kadar Air Tanah merupakan Faktor penting untuk pertumbuhan

Air merupakan sumber daya alam yang cukup banyak di dunia ini, ditandai
dengan adanya lautan, sungai, danau dan lain-lain sebagainya. Tanah memegang peranan penting dalam melakukan prespitasi air yang masuk ke dalam tanah, selanjutnya sekitar 70% dari air yang diterima di evaporasi dan dikembalikan
ke atmosfer berupa air, dan tanah memegang peranan penting dalam refersi dan penyimpanan. Sisanya itulah yang digunakan untuk kebutuhan tranpirasi,
evaporasi dan pertumbuhan tanaman.

Kandungan air dalam tanah dapat ditemukan dengan beberapa cara.
Sering dipakai istilah nisbi, seperti basah dan kering. Kedua-duanya adalah kisaran yang tidak pasti tentang kandungan air dan karena itu dapat ditafsirkan
bermacam-macam. Walaupun penentuan kandungan air tanah didasarkan pada pengukuran gravimetrik, tetapi jumlah air lebih mudah dinyatakan dalam hitungan volumetrik seperti nisbah air (water ratio).

Air mempunyai fungsi yang penting dalam tanah, antara lain pada proses pelapukan mineral dan bahan organic tanah yaitu reaksi yang mempersiapkan hara larut bagi pertumbuhan tanaman. Akan tetapi jika air terlalu banyak tersedia, hara hara dapat tercuci dari daerah daerah, perakaran atau bila evaporasi tinggi, garam garam terlalu mungkin terangkat kelapisan tanah atas. (Menurut Hanafiah ,2007) bahwa koefisien air tanah yang merupakan koefisien yang menunjukkan potensi ketersediaan air tanah untuk mensuplai kebutuhan tanaman.

Dua fungsi yang saling berkaitan dengan penyediaan air bagi tanaman yaitu, memperoleh air dalam tanah dan pengaliran air yang disimpan kedalam akar akar tanaman. Jumlah air yang dipeoleh tanah sebagian tergantung pada kemampuan tanah yang tergantung pad kemampuan tanah yang menyerap air cepat dan meneruskan air yang diterima dipermukaan tanah kebawah, akan tetapi jumlah ini juga dipengaruhi oleh factor factor luar seperti jumlah curah hujan pertahun dan sebaran hujan sepanjang tahun.

Banyaknya kandungan air dalam tanah berhubungan erat dengan besarnya tegangan air dalam tanah tersebut. Besarnya tegangan air menunjukkan besarnya tenaga yang diperlukan untuk menahan air tersebut dalam tanah. Air dapat menyerap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya-gaya adhesi, kohesi dan gravitasi, karena air higroskopik dan air kapiler (Hardjowigeno, 2003).
Kadar air merupakan komponen utama tanaman hijau yang merupakan 70% – 90% dari berat segar. Kebanyakan sepsis tanaman tak berkayu, sebagian besar air kandungan dalam isi sel (85% – 90%) yang merupakan media yang baik untuk banyak reaksi biokimia. Tetapi air mempunyai beberapa peranan lain dalam fisiologi
tanaman dan keadaannya unik yang cocok dengan sifat kimia dan fisikanya yang diperankan (Fitter-Hay, 1991).

Air merupakan dua sifat yang penting pada kelakuan air di dalam tanah, yaitu massa dan polaritas. Oleh karena massanya, air senantiasa ditarik ke bawah oleh gaya gravitas polaritas disebabkan oleh susunan molekul air (Pairunan, 1997).
Kadar air tanah Alfisol merupakan perubahan regim kelembaban manusia atau bahkan frekuensi yang tidak begitu sering akan mendorong periode jenuh yang silih berganti mendekati desikasi sedemikian rupa sehingga bahan-bahan yang dapat larut dalam air bergerak ke daerah jenuh dan mengendap di bagian yang kering yang tergantung pada tekstur solumnya. Air merupakan unsur utama dalam proses-proses kimia dalam hubungannya dalam jumlah produk pelapukan fenomena translokasi. Peranan air dan duhu dalam hidrasi atau (dehidrasi) dalam karbonasi dan hidrolisis cukup sulit untuk dimengerti sebagai hasil disolusi mineral, keragaman produk ion tidak hanya mengambarkan komposisi spesis ion yang terlarut (Lopulisa, 2004).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kadar Air

Menurut indranada 1994, factor factor yang mempengaruhi kadar air tanah terdiri dari:
1. Kadar Bahan Organik
Kadar bahan organic tanah mempunyai pori pori yang jauh lebih banyak dari pada partikel mineral tanah yang berarti luas permukaan penyerapan juga lebih banyak sehingga makin tinggi kadar bahan organic tanah makin tinggi kadar dan ketersediaan air tanah.
2. Kedalaman Solum
Kedalaman solum atau lapisan tanah menentukan volume simpan air tanah, semakin dalam maka ketersediaan kadar air juga akan semakin banyak.
3. Iklim dan Tumbuhan
Iklim dan tumbuhan pempunyai pengaruh yang penting bagi ketersediaan air yang dapat yang dapat diabsorbsi dengan efisiensi tumbuhan dalam tanah. Temperature dan perubahan udara merupakan perubahan iklim dan berpengaruh pada efisiensi penggunaan air tanah dan penentuan air yang dapat hilang melalui saluran evaporasi permukaan tanah. Kelakuan akan ketahanan pada kekeringan keadaan dan tingkat pertumbuhan adalah factor pertumbuhan yang berarti.
4. Senyawa Kimiawi
Senyawa kimiawi garam garam dan senyawa pupuk baik alamiah maupun non alamiah mempunyai gaya asmotic yang dapat menarik dan menghidrolisis air sehingga koefisien laju meningkat.
5. Tekstur Tanah
Tekstur tanah berpengaruh bahwa dengan adanya perbedaan jenis tekstur tanah dapat menggambarkan tingkat kemampuan tanah untuk mengikat air.
6. Strukrur Tanah, Permeabilitas, Serta Pori Tanah
Strukrur Tanah, permeabilitas tanah serta pori tanah merupakan hal yang penting bagi factor factor yang mempengaruhi kadar air didalam tanah. Tanah yang mempunyai ruang pori yang lebih banyak akan mampu menyimpan air lebih banyak. Tanah yang lebih baik untuk proses pertumbuhan tanaman adalah jenis tanah jenis inseptisol, karena jenis tanah inseptisol cukup subur karena mempunyai bahan organic yang cukup tinggi.
Kapasitas tanah untuk menahan air dihubungkan baik dengan luas permukaan maupun volume ruang pori, kapasitas menahan air karenanya berhubungan dengan struktur dan tekstur. Tanah-tanah dengan tekstur halus mempunyai maksimum kapasitas menahan air total maksimum, tetapi air tersedia yang ditahan maksimum, pada tanah dengan tekstur sedang. Penelitian menunjukkan bahwa air tersedia
pada beberapa tanah berhubungan erat dengan kandungan debu dan pasir yang
sangat halus (Foth, 1995).
Tanah bertekstur halus menahan air lebih banyak pada seluruh selang energi dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar. Hal ini dimungkinkan karena tanah bertekstur halus mempunyai bahan koloidal, ruang pori dan permukaan adsortif yang lebih banyak (Nurhayati,1986). Hardjowigeno (1993) menambahkan bahwa tanah yang bertekstur kasar mempunyai kemampuan menahan air yang kecil daripada tanah bertekstur halus. Oleh karena itu tanaman yang ditanam pada tanah pasir umumnya lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanah bertekstur lempung atau liat.
Selain sifat tanah, faktor tumbuhan dan iklim sangat mempengaruhi jumlah air yang dapat diabsorsikan tumbuhan tanah, faktor-faktor tumbuhan antara lain, bentuk perakaran, daya tahan terhadap kekeringan, tingkat dan stadia pertumbuhan. Faktor iklim antara lain, temperatur, kelembaban dan kecepatan angin. Diantara sifat-sifat tanah yang berpengaruh terhadap jumlah air yang tersedia adalah daya hisap (matrik dan osmotik), kedalaman tanah dan pelapisan tanah (Nurhayati, 1986).
Adapun pengaruhnya bahan organik terhadap sifat-sifat tanah dan akibatnya juga bagi pertumbuhan tanaman adalah sebagai emulgator (memperbaiki struktur tanah), sumber hara N, P, S, menambah kemampuan tanah untuk menahan air, menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur-unsur hara dan sumber energi bagi mikroorganisme (Hardjowigeno, 1993).
Bila semua faktor sama, tanah bersolum dalam mempunyai air tersedia lebih banyak dibandingkan dengan tanah dangkal. Hal ini penting untuk tumbuhan berakar dalam. Pelapisan tanah berpengaruh terhadap jumlah air tersedia dan pergerakannya dalam tanah. Lapisan keras tidak tembus air memperlambat pergerakan air dan mempengaruhi daya tembus dan perkembangan akar, yang secara erfektif mengecilkan kedalaman tanah dari mana air diperoleh. Lapisan berpasir juga menghalangi pergerakan air dari lapisan yang bertekstur halus (Nurhayati, 1986).
Hardjowigeno (1993) menyimpulkan bahwa kadar air dalam tanah tergantung pada banyaknya curah hujan, kemampuan tanah menahan air, besarnya evapotranspirasi, kandungan bahan organik dan tingginya muka air tanah.

Kadar Air Tanah merupakan Faktor penting untuk pertumbuhan

Titik Layu Permanen

Nah, disini adalah pembahasan yang paling terpenting bagi saya adalah Titik layu permanen terjadi dimana kandungan lengas tanah yang menyebabkan tanaman yang tumbuh di atasnya mengalami layu tetap (tidak bisa segar kembali meskipun ke dalam tanah ditambah lengasnya/ tidak bisa segar kembali meskipun tanaman ditempatkan ke dalah ruangan yang jenuh uap air) Karena plasmolisis yang terjadi pada sel tanaman sudah lanjut dan sel terlanjur mati, meskipun tanaman disiram deplasmolisis tidak akan terjadi, tanaman akan tetap mati. Pada tingkat kelembaban titik layu ini tanaman tidak mampu lagi menyerap air dari dalam tanah. Jumlah air yang tertampung di daerah perakaran merupakan faktor penting untuk menentukan nilai penting tanah pertanian maupun kehutanan(Nurhayati, 1986).

Bilamana tanaman ditanam pada keadaan air yang cukup maka tanaman itu akan mengambil air kapiler dari dalam tanah tersebut. Bila sampai batas maksimum, air kapiler dapat diambil dan mendekati habis maka tanaman akan menjadi layu. Meskipun pada titik layu ini tanah menunjukkan tekanan osmose yang sangat nyata tetapi tetap tidak mampu menunjukkan tekanan osmose yang sangat nyata tetapi tetap tidak mampu menunjukkan suatu kemampuan tanaman tersebut terhadap absorbsi airnya. Kehilangan turgescensi ini pada tanaman-tanaman yang lemah terjadi pada daun-daun yang telah tua kemudian diikuti oleh daun-daun muda (Nurhayati, 1986).