Cengkeh di Kota Banyumas Sempat Menghilang

 

 

 

 

Cengkeh di Kota Banyumas Sempat Menghilang


cengkeh

Cengkeh di Kota Banyumas Sempat Menghilang

Maraknya aktivitas penjualan cengkeh di indonesia ini membuat perputaran antara produksi dan penjualan bersaing ketat , para pembeli cengkeh dari pabrik-pabrik rokok di Jateng dan Jatim yang berburu cengkeh di Banyumas kecewa karena stok di gudang-gudang yang biasanya menumpuk, menghilang. Padahal seminggu sebelumnya harga cengkeh di Banyumas antara Rp 35.000 dan Rp 40.000 per kg.


“Pada bulan Juni lalu harga cengkeh di Banuyumas masih berkisar antara Rp17.500 sampai Rp 22.500 per kg dan sempat diekspos di media massa, sehingga calon pembeli dari pabrik rokok datang ke Banyumas yang merupakan salah satu sentra cengkeh di Jateng,” ujar Kabag Perekonomian Pemda Banyumas, Drs Suyatno kepada Pembaruan Jumat (16/7) siang. Utusan dari pabrik rokok Jarum dan Jambu Bol sudah lama mengajukan pembelian melalui koperasi dan kantor perdagangan, namun stoknya sudah tidak ada lagi di Banyumas. Padahal pihak pabrik berani membeli dengan harga Rp 35.000 per kg atau lebih kalau kualitasnya prima bisa Rp 40.000 per kg.

Menurut Suyatno, saat ini jumlah tanaman cengkeh di Banyumas sudah berkurang sejak adanya tataniaga cengkeh yang merugikan petani. Antara lain ditebangi atau mati karena kekeringan dan diserang hama. Namun, jumlah yang terbanyak karena ditebangi dengan menurunnya harga cengkeh pada tahun 1994 saat diberlakukannya tataniaga cengkeh.

Tinggal Separo

Sudah lama daerah Banyumas dikenal sebagai sentra cengkeh utama di Jawa Tengah, khususnya di sepanjang lereng Gunung Slamet mulai dari Kecamatan Sumbang, Baturaden, Kedungbanteng, Karanglewat, Cilongok, Ajibarang sampai Pekuncen. Saat itu luas kebun cengkeh mencapai 12.000 hektare. Sejak adanya tataniaga cengkeh yang dinilai merugikan petani, banyak pohon yang
ditebangi dan diganti tanaman lain.

Menurut Kepala Dinas Perkebunan Banyumas, Ir Sachid Wiryosardjono, dalam kesempatan terpisah, saat ini areal tanaman cengkeh di Banyumas tinggal separo yang masih berproduksi, yaitu sekitar 5.167 hektare. Sedang jumlah
pohon yang berproduksi semakin menyusut, dan pohon-pohon pengantinya dari tanaman lain, khususnya kayu Kalba yang mudah dijual. Dengan kenyataan ini dan untuk mengembalikan Banyumas menjadi sentra cengkeh utama di Jawa Tengah, Pemda setempat akan memanfaatkan dana penyertaan modal KUD senilai Rp 7 miliar untuk membangun kembali tanaman cengkeh yang rusak dan
dibongkar pemiliknya. Hal ini sangat penting untuk pemberdayaan ekonomi rakyat.

Menurut Sachid, para petani cengkeh disarankan menggunakan pupuk kandang untuk menyuburkan tanaman dan meningkatkan produksinya. Selain mudah didapat dan harganya lebih murah, juga tidak membahayakan tanaman cengkeh. 

DIGITAL CAMERA

Cengkeh di Kota Banyumas Sempat Menghilang

Permasalahan cengkeh juga terjadi di Surabaya

Dari Surabaya dilaporkan, harga cengkeh naik di beberapa sentra produksi di Jatim seperti di Malang Selatan, Trenggalek, Jombang. Jika pekan lalu masih berada di kisaran Rp 22.000 /kg untuk segala kualitas, meningkat menjadi Rp 32.500/kg sejak Kamis (15/7). Meningkatnya harga cengkeh ini disebabkan para tengkulak mulai memburu cengkeh ke daerah-daerah penghasil cengkeh, setelah anjloknya panen di Sulawesi Utara. 

Para pengepul cengkeh ini melakukan pembelian dari rumah ke rumah pemilik kebun cengkeh dan hasilnya langsung disetor ke pabrik-pabrik rokok kretek di Kudus, Malang, dan Surabaya. Petani cengkeh di Desa Ngrandu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Moh Ruslan, kepada Pembaruan Kamis mengakui dengan sisa-sisa stok relatif sedikit di setiap pemilik kebun cengkeh
kemungkinan petani masih akan bisa menikmati harga yang lebih baik